
Sekolah adalah institusi pembentukan karakter. Menurut Ki Hadjar Dewantara, “Adapun maksud pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada
pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya”
(dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20). Sebagai guru perlu membangun komunitas
di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berbudaya
tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat.Karakter yang diinginkan adalah pelajar yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Keimanan dan ketakwaannya termanifestasi dalam akhlak yang mulia
terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam, dan negaranya. Ia berpikir dan bersikap
sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan sebagai panduan untuk memilah dan memilih yang baik dan benar, bersikap welas asih pada ciptaan-Nya, serta menjaga
integritas dan menegakkan keadilan. Pelajar Indonesia senantiasa berpikir dan
bersikap terbuka terhadap kemajemukan dan perbedaan, serta secara aktif
berkontribusi pada peningkatan kualitas kehidupan manusia sebagai bagian dari
warga Indonesia dan dunia. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, Pelajar
Indonesia memiliki identitas diri merepresentasikan budaya luhur bangsanya. Ia
menghargai dan melestarikan budayanya sembari berinteraksi dengan berbagai
budaya lainnya. Ia peduli pada lingkungannya dan menjadikan kemajemukan yang
ada sebagai kekuatan untuk hidup bergotong royong. Pelajar Indonesia merupakan
pelajar yang mandiri. Ia berinisiatif dan siap mempelajari hal-hal baru, serta gigih
dalam mencapai tujuannya. Pelajar Indonesia gemar dan mampu bernalar secara
kritis dan kreatif. Ia menganalisis masalah menggunakan kaidah berpikir saintifik dan
mengaplikasikan alternatif solusi secara inovatif. Ia aktif mencari cara untuk
senantiasa meningkatkan kapasitas diri dan bersikap reflektif agar dapat terus
mengembangkan diri dan berkontribusi kepada bangsa, negara, dan dunia.
Tujuan dari pendidikan karakter secara luas (CCR, 2015) adalah :
❏ Untuk membangun fondasi dalam pembelajaran seumur hidup
❏ Untuk mendukung relasi yang baik di dalam tempat tinggal, komunitas, dan
tempat kerja
❏ Untuk mengembangkan nilai-nilai (values) personal dalam berkontribusi di
kehidupan global
Tujuan utama dari pendidikan karakter juga bukan hanya mendorong murid
untuk sukses secara moral maupun akademik di lingkungan sekolah, tetapi juga untuk
menumbuhkan moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam
masyarakat.
Menurut Character Education Partnership
(2010) ada beberapa panduan dalam pelaksanaan program pendidikan karakter di
sekolah agar program yang dibentuk dapat berjalan dengan efektif :
1. Nilai inti (Core values) yang disusun didefinisikan, dilaksanakan, dan tertanam
dalam budaya sekolah
2. Karakter harus secara komprehensif menggambarkan cara berpikir, merasa, dan
berperilaku
3. Sekolah menggunakan pendekatan yang komprehensif dan proaktif untuk
mengembangkan karakter
4. Sekolah harus menjadi komunitas yang menunjukkan rasa peduli
5. Untuk mengembangkan karakter, murid membutuhkan kesempatan agar dapat
berperilaku baik secara moral
6. Melibatkan seluruh staf sekolah
7. Memerlukan kepemimpinan positif (positive leadership) dari staf sekolah dan
murid
8. Melibatkan orang tua dan komunitas sekolah lainnya
9. Menilai hasil pendidikan karakter dan melakukan improvisasi secara berkala
Menmbangun budaya positif di sekolah tidaklah mudah, kita harus memulai membangun hubungan yang baik antara guru dan murid. Untuk itu kita perlu mempelajari 5 posisi kontrol guru.
Kita juga perlu mempelajari tentang disiplin dan hukuman. Yang manakah yang efektif dalam menumbuhkan budaya positif di sekolah. Kita seringkali memandang bahwa hukuman adalah bentuk yang sama dengan
proses pen-disiplin-an dan memberikan hukuman sebagai salah satu langkah dalam
proses disiplin murid. Padahal, disiplin dan hukuman memiliki arti yang berbeda dan
memberikan efek yang sangat berbeda dalam pembentukan diri murid.
Disiplin merujuk pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk mematuhi
peraturan atau perilaku dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sementara
hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku murid, disiplin dimaksudkan
untuk mengembangkan perilaku para murid tersebut serta mengajarkan murid
tentang kontrol dan kepercayaan diri dengan berfokus pada apa yang mampu
mereka pelajari.
Disiplin sebaiknya juga menerapkan hal-hal berikut ini:
• Fokus dalam mengoreksi dan mendidik
• Mendorong tanggung jawab dan disiplin diri
• Jangan pernah merusak atau membahayakan martabat pelajar atau pendidik
Berikut adalah tabel perbedaan disiplin daan hukuman :
. Salah satu langkah dalam menerapkan
budaya disiplin positif adalah dengan membentuk lingkungan kelas yang
mendukung terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan kelas.
Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya
disiplin positif di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang
lebih mudah dan tidak menekan.
Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja
bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas
tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap
pengajar. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan
murid.
Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja
bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas
tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap
pengajar. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan
murid. Dalam menyusun kesepakatan kelas, guru perlu mempertimbangkan hal yang
penting dan hal yang bisa dikesampingkan. Murid dapat mengalami kesulitan
dalam mengingat banyak informasi, jadi susunlah 4 - 8 aturan untuk setiap kelas. Jika
berlebihan, murid akan merasa kesulitan dan tidak mendapatkan makna dari
kesepakatan kelas tersebut. Kesepakatan harus disusun dengan jelas sehingga
murid dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari mereka.
Kesepakatan yang disusun perlu mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan.
Kesepakatan perlu dapat diperbaiki dan dikembangkan secara berkala, seperti
setiap awal semester. Untuk mempermudah pemahaman murid, kesepakatan
dapat ditulis, digambar, atau disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipahami
dan disadari oleh murid. Strategi lain adalah dengan mencetaknya di setiap buku
laporan kegiatan murid. Hal ini menjadi strategi yang baik untuk meningkatkan
komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah.
Selanjutnya kita akan belajar tentang disiplin positif. Disiplin Positif sebagai landasan budaya positif dalam membangun
hubungan guru dan murid di sekolah.
Disiplin Positif adalah sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan
murid untuk menjadi pribadi dan anggota dari komunitas yang bertanggung jawab,
penuh hormat, dan kritis. Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan
kehidupan yang penting dengan cara yang sangat menghormati dan
membesarkan hati, tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa
(termasuk orangtua, guru, penyedia penitipan anak, pekerja muda, dan lainnya).
KRITERIA UTAMA DISIPLIN POSITIF
panduan dalam membangun hubungan dengan
murid.
1. Bersikap baik dan tegas di saat yang bersamaan (menunjukkan sikap hormat
dan memberi semangat).
2. Membantu murid merasa dihargai dan memiliki keterikatan antara dirinya
dengan guru dan teman di kelasnya, sehingga ia merasa menjadi bagian dari
kelas.
3. Memiliki komitmen untuk mempertimbangkan efektivitas dan dampak jangka
panjang bagi proses belajar murid dari tindakan yang diambil (misalnya;
pemberian hukuman bersifat dapat menyelesaikan masalah dalam jangka
pendek, tetapi berpotensi memberikan dampak negatif dalam proses belajar
pada anak yang bersifat jangka panjang). Dengan begitu, pendidik fokus
pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap, bukan hanya
pada perilaku yang berhasil ditampakkan pada saat itu.
4. Menerapkan disiplin positif berarti membekali murid dengan keterampilan
sosial dan mendukung pertumbuhan karakter yang baik seperti rasa hormat,
kepedulian terhadap orang lain, komunikasi yang efektif, pemecahan
masalah, tanggung jawab kontribusi, kerja sama.
5. Mengajak murid untuk menemukan bagaimana mereka mampu dan dapat
menggunakan kekuatan diri mereka dengan cara yang membangun.
Menciptakan visi bersama untuk membangun budaya positif
Visi yang dikembangkan harus mendukung hal-hal berikut ini:
● Penciptaan lingkungan belajar yang ramah murid di mana murid, pendidik,
dan orang tua merasa dihargai dan didukung; serta di mana murid merasa
bebas untuk mengekspresikan pandangan mereka dan didorong penuh untuk
mencapai potensi yang mereka miliki.
● Pengajaran dan penguatan positif yang bertujuan untuk membangun
hubungan yang saling menghormati dan peduli.
● Strategi untuk mengurangi perilaku yang tidak dapat diterima yang
melibatkan semua pemangku kepentingan yaitu, pendidik, orang tua, murid
dan manajemen sekolah.
( Sumber Tulisan ; Modul 1.4 Program Guru Penggerak )