Jumat, 20 November 2020

Kurva Belajar

Pada awal penerapan model BAGJA nanti, mungkin kita akan merasakan kejanggalan atau meragukan keberhasilannya. Namun mari kita mencobanya dan menikmati kurva belajarnya yang mirip seperti anak burung yang belajar terbang. Pada saat pertama kali terbang, jalur terbang anak burung tidak akan langsung ke ats, tapi kebawah dahulu kemudian meliuk ke ats sebagaimana terlihat pada gambar di atas.

Mari terus percaya bahwa pendekatan positif akan membuahkan hasil yang lebih luar biasa. Ini adalah kebiasaan baru yang perlu dibiasakan. 

BAGJA

Tahapan dalam IA ( Inkuiri Apresiatif) disebut BAGJA ( Buat pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi)








Semoga  bermanfaat. Sumber : modul 1.3 visi guru penggerak.


Inkuiri Apresiatif (IA)

Inkuiri Apresiatif ( IA) adalah pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan.  Pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider ( Noble & McGrath, 2016). Cooperrider menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang.

IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkatkan dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan.

Pendapat Coperrider ini sejalan dengan pendapat Peter Drucker. Menurut Peter Drucker, kepemimpinan dan manajemen adalah keabadian. Oleh sebab itu seorang pemimpin bertugas menyelaraskan kekuatan yang dimiliki organisasi. Caranya dengan mengupayakan agar kelemahan suatu sistem dalam organisasi tidak relevan, karena  semua aspek dalam organisasi fokus pada penyelarasan kekuatan, dengan satu tujuan yaitu mengatasi kelemahan.

Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mencari hal baik yang telah ada di sekolah, mencari cara agar bagaimana hal tersebut dapat diperhatikan, sehingga kelemahan, kekurangan dan ketidak adaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif tersebut, sekolah kemudian menyelaraskan hal positif atau kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap individu dalam komunitas sekolah.

Modul 1.3 Visi Guru Penggerak


Visi : MENGELOLA PERUBAHAN DAN LINGKUNGAN YANG POSITIF

Untuk menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid tidaklah mudah karena memerlukan perubahan yang mendsar dan upaya yang konsisten.

Menurut Evans ( 2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah.

Reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia berinovasi dan melawan arus biasa yang kurang efektif dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi.

Perubahan yang positif dan konstruktif di sekolah biasanya membutuhkan waktu dan bersifat gradual. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, guru penggerak hendaknya terus berlatih mengelola diri sendiri sambil berupaya menggerakkan orang lain yang berada di bawah pengaruhnya untuk menjalani proses bersama-sama. Hal ini perlu dilakukan dengan niatan belajar yang tulus demi mewujudkan visi sekolah.


Selasa, 17 November 2020

Nilai dan Peran Guru Penggerak

Modul 1.2.b.10 Sintesis Pengetahuan - Nilai dan Peran Guru Penggerak

Agathe, S.Pd

CGP Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah 




















Minggu, 15 November 2020

Lokakarya 1 CGP Kapuas KalTeng

 


Lokakarya 1 Cgp Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah Sabtu , 14 November 2020 di Ballroom Hotel Permata Inn berjalan dengan lancar. 

Mulai 07.00 WIB, semua peserta registrasi dengan membawa surat tugas dan hasil rapid tes covid -19, masing -masing cgp dan pendamping mendapat tas cantik+ masker,buku,pen,flashdisk dan face mask yang dibawa oleh PPPPTK IPA.

Kegiatan ini bertujuan agar cgp:

mampu menjelaskan penerapan kompetensi guru penggerak dalam menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran ( Kompetensi guru penggerak)

Mampu mengidentifikasi posisi diri berdasarkan kompetensi guru penggerak ( diriku sekarang)

Membuat rencana pengembangan diri ( diriku ke depan).

Kegiatan 1 dimulai dengan pengenalan diri dari masing-masing cgp yaitu dengan menyebutkan nama, asal sekolah dan hobi. Lalu perkenalan dari masing-masing pendamping yng terdiri dari 5 orang pendamping.

Kemudian kami bersama-sama dengan pendamping membuat kesepakatan kelas.

Kesepakatan kelas kami:

1. Hp silent

2. Santai, serius, bermakna

3. Peserta aktif

4. Tugas tuntas

5. Meminta ijin jika keluar 

Kegiatan dilanjutkan dengan menilai kemampuan diri, belajar  kompetensi guru penggerak, evaluasi diri dan membuat tindak lanjut pengembangan diri.





Disaat kegiatan sedang berlangsung kami mendapat kunjungan dari Kepala Dinas Pendidikan Kab. Kapuas  Bapak Dr. H. Suwarno Muriyat., S.Ag., M.P.d.  beliau memberi semangat kepada kami dan berkata bahwa kami adalah aset bagi pendidikan di Kab. Kapuas dan diharapkan dapat mendukung program Pendidikan Hebat Kapuas Cerdas. Beliau juga mengharapkan calon guru penggerak jangan menjadi TUKIYEM ( dibentuk lalu diem). Tetapi mari lakukan inovasi demi kemajuan pendidikan di Kab. Kapuas. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada P4TK IPA yang telah datang untuk melaksanakan kegiatan lokakarya 1 di Kapuas.


Kegiatan Lokakarya 1 berakhir pada pukul 15.00 WIB. Semua cgp kembali ke rumah masing-masing dengan membawa hasil refleksi diri , menggali potensi diri ,meningkatkan kompetensi diri dan  impian untuk memajukan pendidikan di sekolah masing-masing. Salam guru penggerak! Merdeka Belajar! ( Agathe, S.Pd)


 

Selasa, 10 November 2020

Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak

Guru sesungguhnya memiliki kesempatan untuk menjadi teladan bagi muridnya. Kini, pilihannya adalah memanfaatkan kesempatan itu dengan sengaja atau membiarkannya lewat begitu saja dan tidak melakukan apa-apa. Menjadi teladan harus diusahakan secara sadar.

Lumpkin (2008), menyatakan bahwa guru dengan karakter baik mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Guru ini membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka sendiri, kemudian mereka mempercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga kemudian mereka terus menghidupinya. Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-nilai kebaikan dibtengaj masyarakat melalui murid-murid mereka.

Guru adalah tukang kebun, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam diri murid-muridnya. Guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan lingkungan dimana murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut. Guru dapat mengembangkan lingkungan yang sifatnya fisik (ekstrinsik) maupun yang sifatnya psikis (intrinsik).

Emosi adalah bagian utama dari lingkungan psikis yang dapat dipengaruhi dan harus dipertimbangkan pengembangannya oleh guru.

Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya. Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakkan manusia yang lain.

Mengapa kita perlu memerhatikan emosi dan lingkungan yang dapat memengaruhinya dalam proses penumbuhan nilai diri seseorang?”

Di balik kecanggihan otak manusia, ternyata ada bagian-bagian yang masih menyerupai otak Reptil, otak Mamalia, dan Primata.

Batang otak mengelola semua otomasi dan reflek di tubuh demi kelangsungan hidup kita, sehingga mampu mengkonservasi energi yang digunakan otak. Bagian otak ini selalu menganggap semua adalah ancaman hingga terbukti aman. Bagian otak ini menyerupai otak Reptil.
Sistem limbik (amigdala) yang menyerupai otak Mamalia ini, bertanggung jawab soal emosi. Letaknya begitu dalam di otak kita sehingga seringkali mampu mengambil alih kendali diri seseorang. Terlukanya perasaan jauh lebih sakit dan lama sembuhnya ketimbang luka fisik biasa. Otak Reptil dan Mamalia tersebut memiliki kecenderungan alamiah yang sama yaitu: sebanyak mungkin mengkonservasi energi melalui otomasi, auto pilot.

Otak berpikir, yang terdiri dari otak Primata (bagian gerak kompleks, rekayasa penggunaan alat) dan berada dalam satu kesatuan dengan otak manusia, otak luhur, atau neocortex yang tugasnya berpikir strategis, kreatif, metakognitif. Ini adalah kekuatan, namun karena kerja itu semua memakan banyak sekali energi, maka hal ini pun sekaligus menjadi kelemahan. Jadi, perlu diingat bahwa secara alamiah kita mempunyai kecenderungan untuk mengkonservasi energi. Insting kita akan lebih cepat bereaksi dan mengklasifikasikan sesuatu sebagai ancaman, ketimbang harus menganalisanya terlebih dahulu apakah benar itu adalah ancaman.

Kabar baiknya, otak manusia memiliki kemampuan untuk belajar. Tidak statis tapi elastis. Dengan demikian, penggunaan sistem berpikir lambat, penggunaan otak luhur (manusia) dapat kita pelajari agar tidak begitu saja memperkenankan sistem berpikir cepat (otak Reptil & Mamalia) mengambil alih kendali diri kita.

Nilai-nilai dan peran guru penggerak :

Mandiri

Reflektif

Kolaboratif

Inovatif

Berpihak pada Murid

Cara Membuat e sertifikat otomatis terkirim ke email

 Cara membuat e sertifikat terkirim ke email: 1. Desain template sertifikat di Canva 2. Buat folder materi dll di google Drive. 2. Di Canva ...